Menatap Tahun Ajaran Baru, SMKN 1 Kalipuro Pacu Kualitas Lewat Akreditasi dan Kurikulum Berbasis ”Deep Learning”
BANYUWANGI, e bulletin — Libur semester genap bagi sebagian besar tenaga pendidik biasanya
menjadi momentum untuk melepaskan diri sejenak dari rutinitas administrasi dan
aktivitas kedinasan. Namun, pemandangan yang kontras terlihat jelas di Sekolah
Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kalipuro, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur.
Di tengah sepinya aktivitas murid, deru semangat peningkatan mutu justru
bergaung kencang di dalam ruang pertemuan utama sekolah tersebut.
Setelah sukses menyelenggarakan kegiatan In-House Training (IHT)
mengenai sinkronisasi kurikulum bersama PT Dharma Lautan Utama (DLU) Cabang
Banyuwangi pada Rabu (1/7/2026), SMKN 1 Kalipuro tidak menurunkan tempo
kegiatannya. Pada Kamis (2/7/2026), sekolah yang akrab disukai dengan julukan
"Semakapura" ini kembali menggelar agenda yang tidak kalah krusial.
Agenda tersebut bertajuk IHT Akreditasi Sekolah 2026 dan Penyusunan Perangkat
Pembelajaran SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi Tahun Pelajaran 2026-2027.
Langkah maraton yang diambil oleh pihak manajemen sekolah ini menegaskan komitmen institusi dalam menyambut tahun ajaran baru dengan tingkat kesiapan yang total. Sinkronisasi dengan dunia usaha dan dunia industri (DUDI) yang matang, manajemen tata kelola sekolah yang adaptif, serta kesiapan perangkat ajar yang mutakhir menjadi tiga pilar utama yang ingin dikukuhkan oleh Semakapura dalam menghadapi tantangan pendidikan vokasi yang kian kompetitif ke depan.
Rapor Pendidikan sebagai Kompas Mutu Sekolah
Sesi pertama dari rangkaian IHT pada hari Kamis itu dimulai sejak pagi
hari dengan fokus utama pada pembenahan tata kelola dan persiapan akreditasi
sekolah. Hadir sebagai pemateri utama adalah Ahmad Jaenuri, S.Pd., M.Pd., sosok
yang sudah sangat dikenal luas dalam dunia pendidikan di Bumi Blambangan.
Mantan Kepala Cabang Dinas Pendidikan Wilayah Kabupaten Banyuwangi periode
tahun 2022 hingga 2025 tersebut kini aktif mendedikasikan keahlian profesinya sebagai
asesor akreditasi sekolah.
Dalam paparannya yang berlangsung taktis, Jaenuri menekankan bahwa
paradigma akreditasi institusi pendidikan saat ini telah mengalami pergeseran
yang sangat mendasar. Proses akreditasi tidak lagi sekadar urusan pemenuhan tumpukan
berkas administratif, dokumentasi formal, atau kelengkapan fisik di atas meja
kerja. Lebih dari itu, akreditasi kini merupakan refleksi nyata dari kualitas
proses belajar yang terjadi di dalam kelas serta luaran (output) riil
yang dihasilkan oleh sekolah bagi masyarakat dan dunia kerja.
Menurut penjelasan Jaenuri, kompas utama dari penilaian akreditasi saat
ini sepenuhnya bertumpu pada Rapor Pendidikan sekolah. Rapor Pendidikan
merupakan sebuah platform yang mengintegrasikan berbagai data mutu pendidikan,
mulai dari hasil Asesmen Nasional hingga data sektoral lainnya, untuk
memberikan gambaran utuh mengenai kondisi riil sekolah.
"Jika sebuah sekolah memiliki tekad yang kuat untuk meningkatkan
status akreditasinya menuju jenjang yang lebih tinggi atau mempertahankan
predikat terbaiknya, maka tidak ada jalan pintas lain selain menaikkan kualitas
dari pelbagai komponen yang ada di dalam Rapor Pendidikan sekolah
tersebut," ujar Jaenuri di hadapan puluhan guru dan staf administrasi yang
menyimak dengan saksama.
Jaenuri mengibaratkan Rapor Pendidikan sebagai rekam medis atau general
check-up kesehatan sebuah institusi. Komponen-komponen di dalam Rapor
Pendidikan yang sebelumnya masih dinilai rendah, atau secara visual ditandai
dengan warna merah dan kuning, harus menjadi prioritas utama untuk segera
dibenahi. Guru dan manajemen sekolah dituntut untuk bersikap jeli serta
analitis dalam mengidentifikasi akar masalah utama di balik indikator yang
kurang memuaskan tersebut.
"Kita harus membedah bersama-sama, apa sebenarnya yang kurang di
dalam komponen itu. Apakah masalahnya ada pada kompetensi literasi, numerasi,
iklim keamanan sekolah, atau kualitas pembelajaran itu sendiri? Hal itu yang
harus segera dibenahi secara struktural. Upaya pembenahan ini harus dilakukan
secara konsisten dan berkelanjutan, jangan sampai nilai komponen yang sudah
sempat diperbaiki di tahun sebelumnya kembali merosot menjadi rendah pada
penilaian periode berikutnya," tegas Jaenuri secara langsung.
Keseimbangan Evaluasi: Memadukan LOTS, MOTS,
dan HOTS
Di samping membedah anatomi Rapor Pendidikan secara mendalam, Ahmad
Jaenuri juga memberikan catatan strategis yang sangat penting mengenai
instrumen evaluasi pembelajaran yang dibuat oleh guru. Sebagai ujung tombak
pembelajaran di kelas, kualitas soal-soal ujian atau asesmen yang dirancang
oleh tenaga pendidik mencerminkan sejauh mana kedalaman materi dan daya nalar
yang diajarkan kepada para siswa.
Menurut pandangan beliau, konstruksi pembuatan soal oleh guru tidak
boleh timpang atau hanya condong pada satu tingkat kemampuan saja. Evaluasi
pembelajaran yang ideal harus mampu mengombinasikan tiga tingkatan kemampuan
berpikir secara proporsional. Ketiga tingkatan tersebut meliputi Low Order
Thinking Skills (LOTS) untuk menguji aspek ingatan dan pemahaman dasar, Middle
Order Thinking Skills (MOTS) untuk menguji kemampuan penerapan dan analisis
tingkat menengah, serta High Order Thinking Skills (HOTS) untuk memantik
daya nalar kritis, kemampuan memecahkan masalah kompleks, serta kreativitas
mandiri siswa.
Kombinasi ketiga aspek ini dinilai sangat krusial bagi siswa SMK. Siswa
sekolah kejuruan tidak hanya dituntut untuk terampil secara teknis atau
psikomotorik di lapangan kerja, tetapi juga harus memiliki ketahanan berpikir
kritis ketika mereka dihadapkan pada kendala yang tidak terduga di dunia
industri. Guru harus dilatih untuk terbiasa menyusun stimulus soal yang
kontekstual dan menarik, sehingga siswa terbiasa menganalisis informasi sebelum
mengambil keputusan teknis. Sesi yang berlangsung sangat interaktif dengan
diselingi tanya jawab ini akhirnya diakhiri tepat pada pukul 09.30 WIB,
meninggalkan pekerjaan rumah yang jelas bagi para peserta untuk segera
memetakan strategi perbaikan mutu internal sekolah.
Transformasi Modul Ajar dan Implementasi Deep
Learning
Setelah jeda istirahat dan pelaksanaan ibadah, atmosfer produktif
kembali terbangun di aula SMKN 1 Kalipuro. Tepat pada pukul 13.15 WIB, agenda
IHT memasuki fase teknis pedagogis dengan menghadirkan narasumber kedua, yaitu
Imron Rosadi, S.T. Sosok yang menjabat sebagai Kepala Seksi SMK di Cabang Dinas
Pendidikan Wilayah Kabupaten Banyuwangi ini hadir untuk menyampaikan materi
krusial mengenai pembuatan rancangan modul pembelajaran untuk tahun ajaran
baru.
Penyampaian materi oleh Imron Rosadi dirancang bersifat selayang pandang
tetapi tetap padat substansi dan langsung menyasar pada akar persoalan di
lapangan. Ia menggarisbawahi bahwa memasuki Tahun Pelajaran 2026-2027, dinamika
regulasi kurikulum menuntut fleksibilitas dan adaptabilitas yang tinggi dari
para guru. Berdasarkan aturan terkini, pelaksanaan kurikulum di tingkat sekolah
menengah kejuruan saat ini memang berada dalam fase transisi yang memerlukan
penanganan khusus secara paralel.
Untuk jenjang kelas X dan kelas XI, seluruh proses pembelajaran wajib
mengacu penuh pada Kurikulum Merdeka yang kini dipertajam dengan pendekatan deep
learning atau pembelajaran mendalam. Sementara itu, untuk jenjang kelas
XII, pelaksanaan kurikulum di lapangan masih bersifat hibrida. Di satu sisi,
ada beberapa program keahlian atau sekolah yang masih merampungkan implementasi
Kurikulum 2013, tetapi di sisi lain, ada pula kelas XII yang sudah mulai
mengadopsi penuh Kurikulum Merdeka.
"Apapun jenis kurikulum yang diterapkan di kelas tempat Anda
mengajar, satu prinsip utama yang tidak boleh ditawar adalah seluruh komponen
kurikulum harus dipenuhi secara utuh beserta dengan instrumen asesmennya. Guru
harus memastikan bahwa penilaian yang dilakukan di akhir bab atau akhir
semester benar-benar mencerminkan kompetensi riil yang dimiliki oleh siswa,
bukan sekadar pemenuhan nilai di atas kertas eksemplar," papar Imron
Rosadi menjelaskan.
Pendekatan deep learning yang disinggung secara mendalam oleh
Imron menekankan pada pentingnya pengurangan beban materi yang terlampau padat
dan menumpuk. Dengan pengurangan materi yang bersifat hafalan murni tersebut,
guru diharapkan memiliki ruang gerak yang lebih luas untuk mengajak siswa
mendalami sebuah konsep secara kontekstual, bermakna, dan menyenangkan. Siswa
SMK diharapkan tidak sekadar menghafal teori yang tertulis di buku teks, tetapi
juga mampu memahami esensi dan filosofi dari keahlian teknis yang mereka tekuni
agar siap beradaptasi dengan lanskap industri yang terus berubah secara
eksponensial.
Optimalisasi Kecerdasan Buatan (AI) sebagai
Mitra Strategis Guru
Satu hal yang paling menarik perhatian dan memicu diskusi hangat dalam
sesi siang hari itu adalah pandangan yang sangat progresif dari Imron Rosadi
mengenai pemanfaatan teknologi digital di lingkungan sekolah. Di tengah pelbagai
perdebatan global mengenai batasan etis penggunaan teknologi canggih di ruang
kelas, Imron justru memberikan dorongan moral bagi para guru di SMKN 1 Kalipuro
untuk bersahabat dekat dengan perkembangan zaman, khususnya teknologi
Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI).
Menurut pandangan profesionalnya, para guru saat ini diperbolehkan,
bahkan sangat didorong, untuk memanfaatkan pelbagai perangkat berbasis
kecerdasan buatan dalam membantu menyusun perangkat pembelajaran. Perangkat
pembelajaran tersebut meliputi Modul Ajar, silabus adaptif, bahan ajar
interaktif, hingga penyusunan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP).
Pemanfaatan teknologi AI ini dipandang bukan sebagai bentuk jalan pintas
malas yang melonggarkan kualitas akademis, melainkan sebagai sebuah alat
efisiensi birokrasi mengajar yang revolusioner. Beban administratif guru yang
selama bertahun-tahun dikeluhkan terlalu menyita waktu kini dapat dipangkas
secara signifikan dengan bantuan teknologi pintar tersebut.
"AI dapat menjadi asisten pribadi yang sangat cerdas untuk
merancang draf awal modul, mencari referensi studi kasus industri terbaru, atau
menyusun variasi metode pembelajaran yang kreatif. Dengan memangkas waktu
pengerjaan hal-hal administratif yang bersifat klerikal tersebut, guru akan
memiliki sisa waktu dan fokus energi yang jauh lebih besar untuk memikirkan
strategi interaksi langsung, memberikan pendampingan personal, serta menyentuh
aspek emosional siswa di dalam kelas," tutur Imron menambahkan.
Kendati memberikan lampu hijau terhadap penggunaan AI, Imron Rosadi
tetap memberikan catatan peringatan yang tegas. Ia mengingatkan bahwa secanggih
apa pun kecerdasan buatan, ia hanyalah sebuah alat bantu sekunder. Sentuhan
kemanusiaan, empati, pemahaman mendalam terhadap karakteristik psikologis unik
masing-masing anak didik, serta kearifan lokal yang dimiliki oleh seorang guru
sejati tetap menjadi ruh utama pendidikan yang tidak akan pernah bisa
digantikan oleh algoritma komputer jenis apa pun.
Sesi materi intensif mengenai pembuatan RPP dan pengembangan modul ajar
berbasis teknologi ini pun resmi ditutup tepat pada pukul 14.30 WIB. Acara
diakhiri dengan menghasilkan draf awal rancangan kerja yang siap dimatangkan
lebih lanjut oleh masing-masing kelompok Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP)
internal sekolah dalam beberapa hari ke depan.
Komitmen Tanpa Batas di Tengah Musim Liburan
Keberhasilan pelaksanaan rangkaian kegiatan In-House Training
secara berturut-turut di awal bulan Juli ini memancarkan sinyal optimisme yang
sangat kuat dari ujung timur Pulau Jawa. Kendati kalender akademik resmi
menunjukkan bahwa masa liburan sekolah semester genap sedang berlangsung,
antusiasme nyata yang ditunjukkan oleh para guru, kepala program keahlian,
hingga staf administrasi di SMKN 1 Kalipuro sama sekali tidak menunjukkan
tanda-tanda menyusut.
Kehadiran fisik yang penuh serta keterlibatan aktif dari seluruh elemen sekolah dalam diskusi-diskusi kelompok yang dinamis selama dua hari berturut-turut menjadi bukti yang tidak terbantahkan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan pentingnya peningkatan mutu pendidikan vokasi telah mengakar kuat dalam sanubari setiap warga Semakapura. Mereka menyadari bahwa tantangan dunia kerja di tahun-tahun mendatang akan semakin berat, sehingga persiapan yang matang sejak dini menjadi sebuah keharusan sejarah yang tidak bisa ditunda lagi.
Langkah proaktif yang diambil oleh pihak manajemen sekolah ini secara
tidak langsung telah menempatkan SMKN 1 Kalipuro satu langkah lebih maju di
depan dalam mempersiapkan ekosistem belajar yang kondusif, modern, berwawasan
industri, tetapi tetap humanis. Semua persiapan ini diselesaikan dengan baik
bahkan sebelum lonceng resmi tanda dimulainya tahun ajaran baru berbunyi di
pertengahan bulan Juli nanti.
Semangat kebersamaan, dedikasi tanpa batas, dan kerja keras yang membara
di tengah musim liburan ini seolah mengkristal dengan sempurna dalam satu
pekikan penyemangat yang menggema lantang di ruang pertemuan, mencerminkan
tekad bulat bersama untuk membawa sekolah menuju puncak prestasi yang lebih
tinggi di kancah nasional:
"Bravo SEMAKAPURA! Yes!"