DPRD BANYUWANGI DUKUNG KEMAJUAN SMKN 1 KALIPURO

Featured blog image
Kegiatan 08 May 2026

DPRD BANYUWANGI DUKUNG KEMAJUAN SMKN 1 KALIPURO

Author

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor

BANYUWANGI, e-bulletin—Di tengah hamparan pohon kelapa yang menjulang di kawasan Kalipuro, deru mesin dan aroma laut seolah menyatu dengan semangat para taruna. Di sini, di SMKN 1 Kalipuro, sebuah narasi besar tentang kedaulatan maritim dari pinggiran Banyuwangi sedang ditulis ulang.

Kamis (7/5/2026), suasana sekolah pelayaran itu tampak berbeda. Ketua DPRD Kabupaten Banyuwangi, I Made Cahyana Negara, S.H., datang berkunjung. Namun, kali ini ia tidak datang sendiri. Made membawa serta rombongan Komisi IV DPRD Banyuwangi. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni kedinasan, melainkan sebuah perjalanan nostalgia sekaligus upaya penggalangan dukungan politik untuk masa depan pendidikan vokasi maritim di "Bumi Blambangan".

Bagi Made, SMKN 1 Kalipuro bukan sekadar institusi pendidikan. Sekolah ini adalah "anak kandung" dari perjuangan panjang yang ia kawal sejak titik nol.

 

Jejak Sejarah: Dari Gedung Imigrasi ke Kebun Kelapa

Berdiri di hadapan rekan-rekannya di Komisi IV, Made Cahyana berkisah tentang masa-masa sulit tahun 2011. Kala itu, ia menjabat sebagai Ketua Komite Sekolah saat SMKN 1 Kalipuro pertama kali dirintis sebagai sekolah pelayaran kapal niaga pertama di Banyuwangi.

"Dahulu, kami tidak punya apa-apa. Kami menumpang di gedung lama Imigrasi di Meneng, Ketapang. Fasilitas terbatas, tetapi mimpi kami besar: mencetak pelaut tangguh dari tanah kelahiran sendiri," ujar Made sembari menunjuk beberapa sudut sekolah yang kini telah berubah drastis.

Perjuangan itu membuahkan hasil pada tahun 2013. Melalui lobi-lobi yang ulet dan komitmen kuat terhadap pendidikan, pembangunan gedung sekolah mandiri akhirnya rampung. Lokasinya terbilang unik, yakni di tengah perkebunan kelapa yang rimbun di Jalan Denpasar Nomor 17 XX, Kalipuro. Sejak saat itu, sekolah ini dikenal luas sebagai "Kampus Kelapa" yang melahirkan perwira-perwira muda kapal niaga.

Transformasi dari gedung pinjaman menjadi fasilitas pendidikan yang representatif di lahan hijau tersebut menjadi bukti bahwa konsistensi politik dan kepedulian masyarakat bisa mengubah wajah pendidikan daerah.

  

Milestone 2026: Pengakuan Internasional Melalui "Approval"

Kunjungan Ketua DPRD dan Komisi IV ini terjadi di momen yang krusial. Belum genap tiga bulan, tepatnya pada 5 Februari 2026, SMKN 1 Kalipuro resmi meraih approval atau pengakuan resmi dari Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Dirjen Hubla) Kementerian Perhubungan.

Approval ini bukan sekadar sertifikat di atas kertas. Dalam dunia maritim, pengakuan ini adalah "nyawa" bagi sebuah sekolah pelayaran. Tanpa approval, lulusan tidak akan mendapatkan sertifikat keahlian pelaut yang diakui secara internasional. Dengan diraihnya status ini, SMKN 1 Kalipuro kini sejajar dengan institusi pendidikan pelayaran elit lainnya di Indonesia.

"Ini adalah kemenangan bagi anak-anak Banyuwangi. Sekarang, taruna kita dari jurusan Nautika maupun Teknika tidak perlu ragu lagi. Ijazah dan sertifikasi mereka punya daya tawar internasional," tegas Made di hadapan para anggota dewan dan jajaran pendidik SMKN 1 Kalipuro.

Saat ini, sekolah tersebut mengelola empat program keahlian yang sangat spesifik dan dibutuhkan oleh industri pelayaran global:

  1. Nautika Kapal Niaga: Mencetak calon perwira dek.
  2. Teknika Kapal Niaga: Menyiapkan ahli mesin kapal yang andal.
  3. Tata Boga Kapal Niaga: Jurusan strategis yang menyiapkan tenaga profesional untuk manajemen konsumsi di kapal pesiar maupun kapal kargo.
  4. Teknik Pengelasan Kapal Niaga: Menyiapkan teknisi konstruksi kapal yang memiliki standar keamanan tinggi.



 Tantangan Infrastruktur: Urgensi Asrama Representatif

Walaupun prestasi akademik dan pengakuan regulasi telah digenggam, SMKN 1 Kalipuro masih menghadapi kendala klasik: infrastruktur pendukung kehidupan taruna. Sebagai sekolah dengan sistem kedisplinan tinggi, asrama merupakan komponen vital dalam membentuk karakter dan mental para siswa.

Namun, realita di lapangan menunjukkan adanya ketimpangan. Saat ini, fasilitas asrama yang ada hanya mampu menampung 30 peserta didik. Angka ini sangat jauh dari jumlah total taruna yang terus bertambah setiap tahunnya seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap dunia maritim.

"Kita tidak bisa membiarkan taruna kita hanya belajar teknis tanpa pembentukan karakter di lingkungan asrama yang layak. Kapasitas 30 orang itu sangat kecil. Kita butuh asrama yang representatif agar sistem pendidikan semi-militer dan pembangunan karakter mandiri bisa berjalan maksimal," kata Made.

Dalam dialog bersama Komisi IV, Made secara eksplisit meminta dukungan rekan-rekannya untuk memperjuangkan anggaran dan kebijakan yang mendukung perluasan asrama. Ia ingin memastikan bahwa pemerintah daerah dan provinsi bersinergi untuk memperbesar kapasitas hunian siswa tersebut.

Pembangunan asrama ini dipandang mendesak bukan hanya untuk menampung siswa dari luar daerah, tetapi juga sebagai laboratorium kehidupan bagi siswa lokal agar mereka terbiasa dengan ritme kerja di atas kapal yang menuntut kedisiplinan dan kebersamaan 24 jam penuh.

 

Menuju Ikon Maritim Banyuwangi

Visi besar Made Cahyana Negara tidak berhenti pada pemenuhan fasilitas fisik. Ia bermimpi SMKN 1 Kalipuro menjadi ikon baru Kabupaten Banyuwangi. Jika selama ini Banyuwangi dikenal dengan pariwisata dan festivalnya, Made ingin daerah paling timur di Pulau Jawa ini juga dikenal sebagai lumbung pelaut dunia.

"Banyuwangi memiliki garis pantai yang panjang dan posisi strategis di Selat Bali. Sangat ironis jika kita tidak punya sekolah pelayaran yang menjadi rujukan nasional. SMKN 1 Kalipuro harus menjadi mercusuar itu," tuturnya.

Kehadiran Komisi IV dalam kunjungan tersebut diharapkan mampu membuka mata para pengambil kebijakan bahwa investasi di bidang pendidikan maritim adalah investasi jangka panjang yang pasti menguntungkan bagi pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan warga. Lulusan kapal niaga dikenal memiliki pendapatan yang tinggi, yang pada gilirannya akan memberikan dampak ekonomi (multiplier effect) bagi keluarga mereka di Banyuwangi.

Dukungan politik dari DPRD menjadi kunci. Tanpa keberpihakan anggaran, mimpi menjadikan SMKN 1 Kalipuro sebagai sekolah percontohan akan berjalan lambat. Made berkomitmen untuk terus mengawal progres pembangunan gedung asrama ini hingga terwujud, demi memastikan keberlanjutan prestasi yang telah diraih.

 


Harapan dan Keberlanjutan

Para pendidik di SMKN 1 Kalipuro menyambut baik kunjungan ini. Mereka melihat sosok Made sebagai jembatan aspirasi yang memahami sejarah dan keringat di balik berdirinya sekolah ini. Bagi mereka, dukungan dari Ketua DPRD dan Komisi IV adalah angin segar di tengah upaya sekolah untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan pendidikan.

Kunjungan ini diawali dengan peninjauan langsung ke area laboratorium simulator Nautika Kapal Niaga dan bengkel kerja. Made menyempatkan diri berdialog dengan beberapa taruna yang sedang berlatih mengelas dan mengoperasikan simulator navigasi. Raut wajah optimisme terpancar dari para taruna, melihat pemimpin daerah mereka hadir dan peduli pada nasib pendidikan mereka.

Kisah SMKN 1 Kalipuro adalah kisah tentang bagaimana sebuah mimpi di sebuah gedung imigrasi tua bisa tumbuh menjadi institusi yang diakui negara; dan kini, di bawah pohon-pohon kelapa Kalipuro, mimpi itu sedang dipacu untuk terbang lebih tinggi—menuju samudera luas, membawa nama harum Banyuwangi ke seluruh dunia.

Jika asrama representatif itu segera berdiri, maka kepingan terakhir dari puzzle kemajuan SMKN 1 Kalipuro akan lengkap. Banyuwangi tidak hanya akan memiliki pelabuhan besar, tetapi juga memiliki "pabrik" manusia tangguh yang siap menaklukkan ombak di bawah bendera kapal-kapal niaga dunia.

SMKN 1 KALIPURO

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor