SIKAP Tahap Kedua: Perluas Lahan Pangan Sekolah

Featured blog image
Umum 23 May 2026

SIKAP Tahap Kedua: Perluas Lahan Pangan Sekolah

Author

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor

BANYUWANGI, e-buletin Program Sekolah Inovasi Ketahanan Pangan (SIKAP) yang awalnya diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Timur kini mulai menunjukkan kemandirian di tingkat satuan pendidikan. Sejak diluncurkan secara resmi oleh Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, pada 25 Januari lalu, program ini memang didesain untuk dilepas dan dikelola secara mandiri oleh masing-masing institusi sekolah. Salah satu sekolah yang sukses menangkap tongkat estafet tersebut dan melanjutkannya ke tahap kedua adalah SMKN 1 Kalipuro, Banyuwangi. Sekolah yang dikenal sebagai pencetak sumber daya manusia di bidang pelayaran kapal niaga ini membuktikan bahwa taruna-taruni laut juga mampu menaklukkan sektor agraris.

Langkah berani SMKN 1 Kalipuro untuk menggulirkan SIKAP tahap kedua pada Jumat (22/5/2026) bukan tanpa landasan yang kuat. Keputusan ini diambil menyusul keberhasilan besar yang mereka torehkan pada fase pertama. Pada tahap perdana tersebut, ekosistem sekolah berhasil membudidayakan komoditas hortikultura hingga menghasilkan panen raya yang memuaskan. Proses pemetikan hasil bumi pada fase pertama tersebut dilakukan secara bertahap, dimulai dari akhir April hingga memasuki pekan pertama Mei 2026. Keberhasilan memanen di tengah keterbatasan lahan sekolah inilah yang memicu motivasi besar bagi seluruh warga SMKN Pelayaran Kapal Niaga ini untuk melangkah ke tingkat berikutnya.


Diversifikasi Varian di Lahan Terbatas

Pada fase kedua yang resmi dimulai pertengahan Mei ini, SMKN 1 Kalipuro tidak ingin sekadar mengulang formula yang sama. Di atas lahan percontohan mandiri yang berukuran 150 meter persegi, pihak sekolah melakukan ekspansi yang lebih banyak terhadap jenis tanaman yang dibudidayakan. Jika pada tahap pertama fokus penanaman hanya tertuju pada dua komoditas, yakni brokoli dan tomat, maka pada tahap kedua ini varian tanaman ditambah secara signifikan. Evaluasi dari hasil panen pertama mendorong sekolah untuk lebih adaptif terhadap kebutuhan pasar domestik dan konsumsi harian masyarakat sekitar.

Proses penanaman pada SIKAP tahap kedua ini melibatkan lima jenis sayuran sekaligus secara serempak. Pihak sekolah mempertahankan komoditas brokoli dan tomat yang sudah teruji kecocokannya dengan karakteristik tanah sekolah, sekaligus menambahkan tiga varian sayur baru yang memiliki nilai ekonomis tinggi, yaitu terong hijau, cabai rawit, dan cabai besar. Melalui perhitungan estimasi logistik dan kalender agronomi yang matang, penanaman kelima jenis sayuran ini diproyeksikan akan mencapai masa panen total secara bersamaan pada bulan Agustus 2026 mendatang.

Kolaborasi Estetika Seni dan Logika Agraris

Di balik transformasi lahan sekolah pelayaran menjadi area hijau yang produktif ini, terdapat figur penggerak utama yang merancang seluruh konsep penanaman. Ia adalah David Astiadi, S.Pd., seorang guru seni rupa di SMKN 1 Kalipuro yang memiliki latar belakang unik. Di luar jam dinasnya sebagai pendidik yang mengajar estetika visual, David adalah seorang petani tulen yang lahir, tumbuh, dan besar di kawasan agraris Purwoharjo, Kabupaten Banyuwangi. Pengalamannya bertahun-tahun mengolah tanah di lumbung padi dan hortikultura Banyuwangi selatan itu ia bawa sepenuhnya untuk menyukseskan program SIKAP di sekolah tempatnya mengabdi.

Sebagai seorang guru seni rupa sekaligus praktisi pertanian, David mampu melihat potensi lahan dari sudut pandang yang berbeda. Di tangannya, lahan seluas 150 meter persegi milik SMKN 1 Kalipuro tidak hanya diolah secara konvensional, melainkan dirancang dengan pendekatan lanskap yang presisi. Pengaturan jarak tanam, pemetaan zonasi komoditas berdasarkan kebutuhan sinar matahari, hingga tata letak saluran irigasi dikerjakan dengan memperhitungkan fungsionalitas pertanian dan estetika visual. David memadukan ilmu seni rupa mengenai komposisi ruang dengan ilmu agronomi terapan mengenai kesuburan tanah.

Kedisiplinan Korps Pelayaran di Atas Tanah

Integrasi antara dunia pelayaran, seni rupa, dan pertanian ini melahirkan atmosfer edukasi yang unik di lingkungan SMKN 1 Kalipuro. Karakter disiplin tinggi yang menjadi ciri khas taruna-taruni kapal niaga rupanya menjadi modal utama dalam menerapkan pola perawatan tanaman yang ketat. Keterlibatan dalam program SIKAP tahap kedua ini tidak hanya menjadi aktivitas sampingan, melainkan telah bergeser menjadi gerakan komunal yang masif. Seluruh elemen sekolah terlibat aktif tanpa terkecuali, mulai dari jajaran guru mata pelajaran umum, staf administrasi sekolah yang biasa mengurus berkas dokumen, hingga para murid pelayaran yang terbiasa dengan tali-temali dan mesin kapal.

Antusiasme warga sekolah terlihat sangat nyata saat proses penanaman bibit baru dilakukan pada Jumat pagi. Lahan seluas 150 meter persegi tersebut dipadati oleh para guru dan murid yang memegang sekop, cangkul, dan baki bibit. Bagi para siswa, kegiatan menanam lima jenis sayuran ini memberikan perspektif baru bahwa ketahanan pangan adalah tanggung jawab multidisiplin. Taruna pelayaran kapal niaga yang biasanya dipersiapkan untuk menghadapi gelombang laut, kini diajak untuk memahami karakter tanah, kelembapan udara, dan ekosistem mikro yang memengaruhi pertumbuhan tanaman hortikultura.

Protokol Perawatan Ketat Dua Alam

Untuk menjamin kelangsungan hidup kelima varietas tanaman tersebut hingga Agustus 2026, David Astiadi menerapkan sistem manajemen perawatan harian yang sangat ketat dan terjadwal secara presisi. Langkah ini krusial mengingat karakteristik tanaman seperti cabai dan tomat sangat sensitif terhadap perubahan lingkungan dan serangan penyakit. Manajemen air menjadi pilar utama dalam pemeliharaan rutin ini. Aktivitas penyiraman dilakukan secara disiplin sebanyak dua kali dalam sehari, yakni pada pagi hari tepat pukul 05.00 WIB untuk menyegarkan tanaman sebelum terpapar terik matahari, serta sore hari tepat pukul 16.00 WIB guna menjaga stabilitas kelembapan tanah selama semalam suntuk.

Selain pasokan air yang konsisten, perlindungan tanaman dari ancaman eksternal berupa hama serangga dan jamur patogen juga menjadi perhatian serius tim pengelola. Pada masa awal penanaman, di mana kondisi jaringan bibit sayuran terong hijau, cabai, brokoli, dan tomat masih dalam fase adaptasi yang rentan, proteksi diberikan secara intensif. Pemberian fungisida dan pestisida dijadwalkan sebanyak tiga kali dalam sepekan. Pola proteksi tinggi ini dipertahankan hingga tanaman dinilai telah memiliki sistem perakaran yang kuat dan batang yang kokoh. Setelah fase kritis awal tersebut terlampaui, intensitas pemberian fungisida dan pestisida diturunkan secara bertahap menjadi satu kali saja dalam sepekan hingga mendekati masa panen.

Menakar Kemandirian Pangan dari Pesisir Kalipuro

Kemandirian SMKN 1 Kalipuro dalam meneruskan program SIKAP ke tahap kedua ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah kebijakan makro dari tingkat provinsi dapat diinternalisasi dan dihidupkan secara lokal oleh satuan pendidikan. Proyek ini membuktikan bahwa pelepasan program dari tingkat Pemprov justru memicu kreativitas dan rasa kepemilikan yang lebih tinggi di tingkat sekolah, tanpa harus terus-menerus bergantung pada stimulus anggaran daerah.

Keberhasilan penanaman yang dimotori oleh seorang guru seni rupa berjiwa petani, serta didukung penuh oleh semangat gotong royong warga sekolah pelayaran kapal niaga, menunjukkan bahwa inovasi ketahanan pangan dapat tumbuh subur di mana saja, asalkan dikelola dengan komitmen, disiplin, dan manajemen yang presisi. Semua mata di lingkungan sekolah kini tertuju pada bulan Agustus, menantikan saat di mana lahan 150 meter persegi tersebut akan berubah warna menjadi hamparan hijau, merah, dan ungu dari totalitas hasil panen sayuran mereka.#

SMKN 1 KALIPURO

IROE SUKARTONO MAHDI S.Pd., M.Pd.

Editor