Semarak Kebangsaan di SMKN 1 Kalipuro
BANYUWANGI, e-bulletin—Riuh rendah suara serangga malam di tengah Perkebunan Kecamatan
Kalipuro perlahan-lahan digantikan oleh deru mesin sepeda motor para siswa yang
mulai memasuki gerbang sekolah. Pada Senin pagi, 25 Mei 2026, matahari terbit
dengan kehangatan yang pas di ufuk timur Banyuwangi, menyinari hamparan
lapangan utama Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Kalipuro. Ada yang
berbeda dari rutinitas awal pekan kali ini di sekolah yang dikenal fokus pada
pendidikan vokasi Pelayaran Kapal Niaga tersebut. Sejak pukul 06.30 WIB,
barisan siswa berpakaian seragam putih-putih lengkap dengan dasi, topi, dan
atribut kerapian lainnya telah berdiri dengan tingkat kesiapan yang tidak
biasa.
Hari itu, SMKN 1 Kalipuro menggelar upacara bendera mingguan yang khidmat. Namun, atmosfer di lapangan felt tegap dan penuh kedisiplinan tingkat tinggi. Di antara barisan guru, staf administrasi, dan unsur pimpinan sekolah, hadir sosok berseragam loreng hijau khas Tentara Nasional Indonesia (TNI) Angkatan Darat. Kehadiran Pembina Penegak Kedisiplinan dari Komando Rayon Militer (Koramil) 0825/21 Kalipuro, Pembantu Letnan Satu (Peltu) Sunaryo Hadi C., menjadi magnet perhatian ratusan pasang mata remaja yang memadati lapangan semen tersebut.
Upacara bendera bagi lembaga pendidikan
kejuruan ini bukan sekadar ritual mekanis menaikkan selembar kain dua warna ke
ujung tiang peniti. Di sekolah yang terletak di wilayah strategis sebelah
selatan pelabuhan penyeberangan dan kawasan industri selat Bali ini, upacara
hari itu dimaknai sebagai momentum refleksi kebangsaan yang mendalam. Apalagi,
kalender masehi saat ini masih berada di bulan Mei—sebuah bulan yang secara
historis memiliki bobot emosional dan nilai filosofis sangat besar bagi
perjalanan bangsa Indonesia dari masa ke masa.
Menyemaikan
Nasionalisme di Bulan Keramat
Bulan Mei acap kali disebut sebagai "Bulan Kebangsaan" atau
"Bulan Pendidikan" di tanah air. Di dalam lembaran sejarah republik,
terdapat dua tonggak besar yang diperingati secara berurutan dan saling
bertautan secara ideologis. Pertama adalah Hari Pendidikan Nasional pada
tanggal 2 Mei, yang berakar dari hari lahir dan pemikiran progresif Ki Hadjar
Dewantara mengenai memerdekakan manusia melalui ilmu pengetahuan. Kedua adalah
Hari Kebangkitan Nasional pada tanggal 20 Mei, yang menandai lahirnya
organisasi pergerakan modern Boedi Oetomo pada tahun 1908 silam.
Kepala SMKN 1 Kalipuro dalam sambutan pembukanya sebelum upacara dimulai
menegaskan bahwa mengaitkan nilai-nilai pendidikan dengan kebangkitan nasional
adalah sebuah keharusan sejarah yang mutlak bagi generasi Z dan generasi Alpha
yang saat ini mendominasi bangku sekolah. Menurut beliau, tantangan dunia
pendidikan kejuruan saat ini tidak hanya berkutat pada transfer keahlian teknis
(hard skills), tetapi juga pada pembentukan karakter dasar (soft
skills) yang berakar pada kecintaan terhadap tanah air.
Kita tidak bisa memisahkan antara kecerdasan intelektual dengan
kecantikan pada tanah air. Tanpa adanya rasa nasionalisme yang kuat, keahlian
teknis yang dipelajari para siswa setiap hari di bengkel-bengkel kerja sekolah
ini tidak akan memiliki arah pengabdian yang jelas bagi kemanusiaan dan negara.
Oleh karena itu, di ujung bulan Mei ini, pihak sekolah sengaja menghadirkan
unsur TNI dari Koramil Kalipuro untuk menyuntikkan kembali energi patriotisme
yang mungkin mulai meredup di tengah gempuran arus informasi digital yang tanpa
batas.
Tepat pukul 06.45 WIB, sirene tanda upacara dimulai berbunyi. Pemimpin
upacara memasuki lapangan dengan langkah tegap yang dinamis, disusul oleh
laporan resmi kepada Pembina Upacara. Saat tim pengibar bendera yang terdiri
dari siswa-siswi terpilih mulai membentangkan sang Merah Putih, seluruh area
sekolah mendadak hening. Kain dua warna itu perlahan bergerak naik ke langit
biru diiringi lagu kebangsaan Indonesia Raya yang dinyanyikan secara serempak
dan lantang oleh seluruh civitas akademika. Suasana magis terasa ketika suara
nyanyian tersebut berpadu dengan kepakan kain bendera yang tertiup angin laut
Selat Bali.
Amanat
Peltu Sunaryo: Membaca Ulang Wawasan Kebangsaan
Tatkala tiba saatnya amanat pembina upacara, Peltu Sunaryo Hadi C.
melangkah maju ke podium utama dengan langkah komando yang mantap. Dengan suara
baritonnya yang mantap, tegas, tetapi tetap bersahabat, ia tidak langsung
memberikan indoktrinasi yang kaku khas militer lama. Sebaliknya, ia memulai komunikasi
dengan menyapa para murid menggunakan pendekatan yang dialogis, berusaha
meruntuhkan jarak psikologis antara seorang tentara senior dengan para remaja
usia belasan tahun.
Dalam amanatnya yang berlangsung sekitar dua puluh menit tersebut, Peltu
Sunaryo mengupas tuntas beberapa aspek fundamental yang harus dimiliki oleh
generasi muda dalam menghadapi lanskap global yang berubah cepat. Beberapa poin
utama tersebut meliputi pentingnya pemahaman wawasan kebangsaan, benteng
antiradikalisme, penegakan disiplin individu, manifestasi cinta tanah air,
hingga pemaknaan nasionalisme dalam spektrum yang jauh lebih luas dari sekadar
simbolisme.
Peltu Sunaryo menjelaskan bahwa wawasan kebangsaan bukan berarti para
siswa harus angkat senjata di garis depan pertempuran fisik saat ini seperti
yang dilakukan para pahlawan pada era kemerdekaan dahulu. Bagi seorang siswa
sekolah kejuruan, wawasan kebangsaan adalah cara pandang yang utuh terhadap
diri dan lingkungannya, dengan mengutamakan persatuan dan kesatuan wilayah
dalam menyelenggarakan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Ketika para siswa menghargai perbedaan latar belakang teman sebangkunya, atau
ketika mereka menjaga fasilitas bengkel sekolah dengan baik, mereka sebenarnya
sudah mempraktikkan wawasan kebangsaan dalam skala mikro yang sangat
fungsional.
Lebih lanjut, perwira Koramil tersebut menyoroti tantangan zaman modern
yang dihadapi generasi muda hari ini yang dinilai jauh lebih kompleks dan saru.
Musuh yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini tidak lagi tampak secara fisik
seperti tentara kolonial Belanda atau Jepang di masa lalu. Musuh nyata saat ini
mewujud dalam bentuk penetrasi ideologi asing yang destruktif, yang menyusup
secara halus melalui layar gawai di genggaman tangan masing-masing anak muda.
Beliau memberikan peringatan yang sangat serius mengenai bahaya laten
radikalisme dan ekstremisme kekerasan yang kerap menyasar kalangan remaja usia
sekolah yang secara psikologis masih berada dalam fase pencarian jati diri.
Proses cuci otak atau doktrinasi kelompok radikal kini tidak lagi dilakukan di
ruang-ruang rapat tertutup yang terisolasi, melainkan telah bermutasi melalui
pemanfaatan algoritma media sosial, potongan video pendek yang provokatif,
serta penyebaran narasi-narasi intoleran yang sengaja didesain untuk memecah
belah persatuan bangsa.
Radikalisme selalu tumbuh dari ketidakmampuan seseorang dalam menerima
perbedaan dan keberagaman. Padahal, Republik Indonesia ini lahir dan tegak
berdiri justru karena adanya heterogenitas tersebut. Jika ada kelompok atau
akun media sosial yang mengajak kalian untuk membenci sesama saudara sebangsa
hanya karena berbeda keyakinan, suku, atau pandangan politik, maka kalian harus
memiliki keberanian intelektual untuk menolaknya. Benteng pertama dan utama dalam
melawan radikalisme adalah pemikiran kalian yang kritis dan hati yang bersih.
Disiplin sebagai Fondasi Vital Pendidikan
Vokasi
Sebagai sebuah sekolah menengah kejuruan yang berorientasi pada kesiapan
kerja para lulusannya, aspek disiplin menjadi poin krusial yang digarisbawahi
secara mendalam oleh Peltu Sunaryo. Menurut pandangan militernya, ada korelasi
linier yang sangat kuat antara tingkat kedisiplinan seorang siswa selama
menempuh pendidikan di sekolah dengan tingkat kesuksesannya kelak ketika memasuki
dunia usaha dan dunia industri yang kompetitif.
Disiplin tidak boleh dimaknai secara sempit sebagai pengekangan terhadap
kebebasan berekspresi para siswa. Sebaliknya, disiplin harus dipandang sebagai
sebuah pelatihan spiritual dan mental untuk menghargai waktu, menghormati
komitmen, dan membentuk etos kerja yang tangguh. Tindakan sederhana seperti
datang ke sekolah tepat waktu sebelum bel berbunyi, mengenakan seragam sesuai
dengan regulasi yang ditetapkan, serta mematuhi instruksi keselamatan kerja (K3)
di laboratorium atau bengkel adalah bentuk nyata dari pelatihan militerisme
dalam konteks sipil yang positif dan produktif.
Nasionalisme dalam spektrum yang lebih luas juga didefinisikan ulang
oleh Peltu Sunaryo agar lebih relevan dengan konteks kekinian. Ia meminta para
siswa SMKN 1 Kalipuro untuk tidak terjebak pada romantisme sejarah masa lalu
semata tanpa melakukan aksi nyata. Nasionalisme di abad ke-21 bukan lagi soal
mati demi membela negara, melainkan tentang bagaimana hidup dan berkarya untuk
memajukan negara.
Nasionalisme hari ini adalah ketika siswa jurusan teknik mampu
menciptakan inovasi mesin yang ramah lingkungan dan tepat guna bagi petani lokal.
Nasionalisme adalah ketika siswa jurusan komputer dan jaringan bisa mengamankan
data siber instansi pemerintah dari serangan luar. Dan nasionalisme tertinggi
bagi seorang pelajar SMK adalah ketika alumni SMKN 1 Kalipuro diserap secara
massal oleh industri nasional maupun internasional karena mereka memiliki etos
kerja yang luar biasa dan integritas moral yang tinggi. Itulah cara nyata kita
menggelorakan kembali semangat kebangsaan dengan nada yang lebih nyaring di era
modern ini.
Pendalaman
di Aula: Dialog Interaktif dan Kritis
Setelah upacara bendera selesai dan barisan dibubarkan, agenda kegiatan
kebangsaan di SMKN 1 Kalipuro tidak berhenti begitu saja. Jika di lapangan
upacara penyampaian materi bersifat searah demi menjaga kekhidmatan tata
upacara militer, maka sesi berikutnya bergeser ke Aula Utama sekolah untuk
format penyampaian yang jauh lebih mendalam, dinamis, dan interaktif.
Sesi di aula ini diikuti oleh perwakilan pengurus Organisasi Siswa Intra
Sekolah (OSIS) atau staf batalyon, perwakilan dari tiap-tiap kelas, serta
jajaran pendidik dan tenaga kependidikan. Suasana formal lapangan yang menegangkan
seketika mencair menjadi ruang diskusi akademis yang serius tetapi penuh dengan
kehangatan kekeluargaan. Peltu Sunaryo secara tangkas berganti peran dari
seorang pembina upacara yang rigid menjadi seorang mentor, narasumber,
sekaligus figur ayah yang siap mendengarkan keluh kesah serta pemikiran kritis
para remaja.
Di dalam aula inilah ruang tanya jawab dibuka selebar-lebarnya tanpa ada
pembatasan opini. Beberapa siswa tampak tidak menyia-nyiakan kesempatan langka
ini untuk melempar pertanyaan-pertanyaan taktis dan kritis yang selama ini
mengganjal di pikiran mereka mengenai kondisi sosial-politik dan masa depan
bangsa Indonesia.
Seorang siswa kelas XI dari jurusan teknika kapal niaga mengajukan
pertanyaan yang cukup menggelitik mengenai bagaimana mempertahankan rasa cinta
tanah air di tengah maraknya tren globalisasi dan gelombang budaya populer
asing yang membuat produk maupun gaya hidup luar negeri tampak jauh lebih keren
dan menarik di mata remaja daripada kebudayaan lokal.
Menjawab pertanyaan kritis tersebut, Peltu Sunaryo memberikan apresiasi
yang tinggi sebelum menjelaskan jawabannya dengan bijak. Beliau memaparkan
bahwa mencintai tanah air tidak berarti kita harus menutup diri secara ekstrem
dari dunia luar dan menjadi bangsa yang kuper. Kita tidak bisa dan tidak perlu
melarang budaya luar atau perkembangan teknologi global masuk ke Indonesia,
karena itu adalah keniscayaan sejarah dari globalisasi. Yang perlu kita lakukan
sebagai bangsa adalah memperkuat sistem penyaringan di dalam diri kita masing-masing.
Kita ambil kedisiplinan kerja orang Jepang, kita contoh penguasaan teknologi
orang barat untuk memajukan daerah kita sendiri. Namun di saat yang sama, kita
tetap menjadikan kebudayaan dan nilai Pancasila sebagai identitas diri yang membanggakan,
bukan sesuatu yang dianggap kuno.
Pertanyaan lain yang tidak kalah tajam muncul dari salah satu siswi pengurus OSIS terkait bagaimana cara konkret seorang pelajar dalam membentengi diri dari serbuan berita bohong atau hoaks di media sosial yang sering bermuatan adu domba antar-golongan agama maupun suku. Menanggapi hal ini, Peltu Sunaryo menekankan pentingnya melakukan verifikasi informasi yang berlapis atau dalam istilah keagamaan disebut tabayyun. Beliau menyarankan agar para siswa tidak mudah tergiur untuk menekan tombol berbagi sebelum memastikan kebenaran sebuah berita dari sumber-sumber resmi yang memiliki kredibilitas. Di sinilah peran literasi digital harus berjalan beriringan secara harmonis dengan wawasan kebangsaan.
Menggugah
Komitmen Bersama dari Ujung Timur Jawa
Pertemuan intensif di aula yang berlangsung selama kurang lebih dua jam
tersebut akhirnya diakhiri dengan penandatanganan komitmen moral bersama untuk
terus menjaga kondusivitas, persatuan, dan peningkatan prestasi di lingkungan
sekolah. Kegiatan pembinaan ini dinilai oleh banyak pihak sangat relevan dan
kontekstual dengan kondisi geografis Kecamatan Kalipuro. Sebagai wilayah yang
menjadi pintu gerbang utama transportasi laut antara Pulau Jawa dan Pulau Bali
melalui Pelabuhan Ketapang, Kalipuro memiliki mobilitas heterogenitas
masyarakat yang sangat tinggi, sehingga menjadikannya wilayah yang rentan
terhadap berbagai pengaruh infiltrasi budaya maupun ideologi radikal dari luar.
Pihak manajemen dan komite SMKN 1 Kalipuro menyatakan bahwa kegiatan
pembinaan karakter dan wawasan kebangsaan seperti ini akan dijadikan agenda
rutin yang dilaksanakan secara berkala. Sekolah berkomitmen untuk terus
berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, baik dari unsur TNI,
Kepolisian, budayawan, hingga praktisi dari dunia industri. Pendidikan karakter
bagi generasi muda tidak bisa hanya dibebankan kepada guru Pendidikan Pancasila
dan Kewarganegaraan di dalam ruang kelas formal yang sangat terbatas oleh
durasi jam pelajaran kurikulum.
Tatkala jarum jam menunjukkan pukul 11.00 WIB,
seluruh rangkaian acara penutup diselesaikan dengan sesi foto bersama antara
civitas akademika dan personel Koramil. Pekik kata "Merdeka!" yang
disuarakan bersama-sama menggema dengan lantang, menggetarkan langit-langit
aula sekolah. Bulan Mei boleh saja segera berakhir dalam hitungan hari, tetapi
benih-benih nasionalisme, kesadaran antiradikalisme, dan komitmen kedisiplinan
yang telah ditanamkan dengan kuat pada hari Senin itu diharapkan akan terus
tumbuh subur, merawat akal sehat, dan mengakar kuat dalam sanubari setiap insan
di SMKN 1 Kalipuro. Dari ujung timur Pulau Jawa ini, semangat untuk membawa
Indonesia bangkit dan bergerak maju telah digaungkan kembali secara nyata demi
menyongsong Indonesia Emas 2045.#