SISWA SD ISLAM ALKAHIRIYAH JELAJAHI DUNIA MARITIM SIMULATOR DI SMKN 1 KALIPURO
BANYUWANGI, e-bulletin–Suara
gemuruh mesin kapal fiktif terdengar samar dari dalam sebuah ruangan berukuran
besar di SMKN 1 Kalipuro, Banyuwangi, Jawa Timur. Di dalam ruangan gelap yang
dikelilingi layar proyeksi melengkung tersebut, puluhan anak-anak tampak
terpukau. Layar raksasa di depan mereka menampilkan simulasi visual Selat Bali
yang biru, lengkap dengan riak gelombang dan siluet kapal feri yang melintas di
kejauhan.
Bagi anak-anak sekolah dasar, pemandangan ini bukan sekadar visualisasi
biasa, melainkan sebuah gerbang pembuka cakrawala baru tentang luasnya dunia
maritim Indonesia.
Pada Sabtu siang, 23-5-2026, sebanyak 134 siswa kelas 5 dari SD Islam Al
Khairiyah Banyuwangi berkesempatan melakukan kunjungan edukatif ke SMKN 1
Kalipuro. Sekolah menengah kejuruan ini bukan sekolah biasa; ia merupakan
satu-satunya sekolah pelayaran kapal niaga di wilayah Jawa Timur, Bali, dan
Nusa Tenggara yang telah mengantongi kelayakan resmi (approval) dari
Direktorat Jenderal Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan Republik
Indonesia.
Rombongan besar yang terdiri dari empat kelas—yaitu kelas 5A, 5B, 5C, dan 5D—didampingi oleh 4 orang guru kelas serta 6 perwakilan komite sekolah dan orang tua murid. Kehadiran mereka membawa keriuhan positif di lingkungan sekolah kejuruan yang biasanya kental dengan disiplin korps taruna tersebut.
Membuka Jendela Maritim sejak Dini
Motivasi di balik kunjungan ini berawal dari rasa penasaran yang tumbuh
di ruang kelas SD Islam Al Khairiyah. Kepala Sekolah dan para guru menyadari
bahwa pembelajaran tekstual di dalam kelas acap kali belum cukup untuk
menggambarkan kekayaan potensi maritim yang dimiliki Indonesia, khususnya
Kabupaten Banyuwangi yang dikelilingi oleh garis pantai yang panjang.
Informasi mengenai keberadaan fasilitas canggih berupa bridge
simulator (simulator kemudi kapal niaga) di SMKN 1 Kalipuro awalnya
diperoleh dari salah satu guru SD Islam Al Khairiyah. Terpikat oleh potensi
edukasi yang ditawarkan, pihak sekolah segera merancang agenda pembelajaran di
luar lingkungan sekolah (outdoor learning). Targetnya jelas: memberikan
pengalaman belajar yang otentik, kontekstual, dan mampu memicu imajinasi
anak-anak tentang profesi di laut.
"Kami ingin anak-anak mendapatkan pengalaman belajar yang berbeda,
langsung berinteraksi dengan dunia nyata yang selama ini mungkin hanya mereka
lihat di buku pelajaran atau televisi," ujar salah satu guru pendamping
dari SD Islam Al Khairiyah di sela-sela kegiatan.
Menurutnya, mengenalkan dunia maritim kepada anak-anak yang tumbuh di
daerah pesisir seperti Banyuwangi adalah sebuah keharusan. Melalui kunjungan
ini, pihak sekolah berharap dapat menanamkan rasa bangga terhadap identitas
Indonesia sebagai negara kepulauan (maritime pride) sejak usia dini.
Menyambut Generasi Penerus di Ruang Simulator
Kedatangan rombongan besar dari SD Islam Al Khairiyah ini disambut
hangat oleh pihak SMKN 1 Kalipuro. Perwakilan sekolah kejuruan tersebut, Wawuh
Sondi Purnomo, S.T., Gr., bertindak langsung sebagai pemandu sekaligus mentor
bagi anak-anak sepanjang kunjungan.
Pak Wawuh, begitu ia akrab disapa, bukanlah sosok sembarangan. Ia adalah
seorang praktisi pelayaran kapal niaga berpengalaman yang telah bertahun-tahun
mengarungi samudra. Setelah memutuskan untuk menyudahi masa-masa berlayarnya di
laut lepas, ia memilih untuk mengabdi di dunia pendidikan sebagai guru
produktif melalui jalur Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di
SMKN 1 Kalipuro.
"Mengedukasi anak-anak sedini ini tentang dunia pelayaran adalah
investasi masa depan. Kita adalah negara maritim besar, dan dari anak-anak
inilah kelak lahir nakhoda-nakhoda baru yang akan menguasai lautan kita
sendiri," tutur Wawuh Sondi Purnomo dengan nada optimis.
Di hadapan ratusan siswa yang berkumpul, Pak Wawuh dengan telaten dan
komunikatif memberikan penjelasan mengenai dasar-dasar ilmu pelayaran, fungsi
kapal niaga dalam rantai logistik global, hingga pentingnya sertifikasi
internasional dalam profesi pelaut. Bahasa yang digunakannya sederhana,
diselingi gurauan khas yang membuat anak-anak usia sekolah dasar tersebut tidak
bosan mendengarkan materi yang sejatinya cukup berbobot.
Fokus utama kunjungan ini tentu saja adalah mencicipi kecanggihan
simulator kapal niaga. Fasilitas simulator ini merupakan alat vital yang
digunakan oleh para taruna SMKN 1 Kalipuro untuk berlatih mengemudikan kapal
dalam berbagai kondisi cuaca, arus laut, dan situasi darurat sebelum mereka
benar-benar diterjunkan untuk praktik kerja di kapal niaga yang sesungguhnya.
Karena statusnya yang sudah di-approval oleh Kementerian Perhubungan,
standar peralatan dan visualisasi yang ada di simulator ini sama persis dengan
yang digunakan pada pusat-pusat pelatihan pelaut profesional.
Antusiasme Menjadi "Kapten Kapal"
Sehari
Secara bergantian dan teratur, siswa-siswi dari kelas 5A hingga 5D
memasuki ruang simulator. Begitu melangkah ke dalam ruangan, decak kagum
langsung terdengar dari mulut anak-anak. Di hadapan mereka, berjajar konsol
kendali yang rumit, lengkap dengan tuas gas (throttle), roda kemudi
kapal (steering wheel), radar, kompas digital, hingga indikator cuaca.
Pak Wawuh kemudian memberikan kesempatan langka yang paling
dinanti-nantikan: mencoba menjalankan kemudi kapal secara langsung. Beberapa
perwakilan siswa maju dengan malu-malu tetapi antusias. Didampingi langsung
oleh Pak Wawuh, tangan-tangan kecil mereka mulai memegang roda kemudi besi yang
besar.
Tatkala roda kemudi diputar ke kanan, visualisasi laut pada layar besar
ikut bergerak, menyimulasikan kapal yang sedang berbelok haluan membelah ombak.
Pengalaman sensorik ini memberikan sensasi nyata seolah-olah mereka sedang
berada di atas jembatan komando (bridge) sebuah kapal tangker atau kapal
kargo raksasa.
"Seru sekali! Tadi saya mencoba memutar kemudi untuk menghindari
kapal lain di depan. Rasanya seperti jadi kapten kapal beneran," kata
Ahmad, salah satu siswa kelas 5 dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan
setelah keluar dari ruang simulator.
Tidak hanya para siswa, respon luar biasa juga datang dari para guru dan
komite orang tua yang mendampingi. Mereka menyampaikan rasa terima kasih yang
mendalam kepada pihak SMKN 1 Kalipuro atas keterbukaan dan ilmu yang dibagikan.
Bagi para guru, kunjungan ini melampaui ekspektasi kurikulum. Pengalaman
langsung memegang kemudi kapal di ruang simulator dinilai sebagai metode
pembelajaran spasial dan motorik yang sangat membekas di memori anak-anak.
Harapan dari Sudut Selat Bali
Kunjungan edukatif ini merefleksikan pentingnya kolaborasi antar-jenjang
pendidikan di daerah. SMKN 1 Kalipuro Banyuwangi, dengan keunggulan fasilitas
spesifiknya yang telah diakui secara nasional, terbukti mampu menjadi destinasi
edukasi yang inklusif, tidak hanya bagi lulusan SMP yang ingin menjadi taruna,
tetapi juga bagi anak-anak usia dini untuk mengenal potensi lokal mereka.
Sebagai satu-satunya sekolah pelayaran kapal niaga berstatus approved
di koridor Jawa Timur hingga Nusa Tenggara, SMKN 1 Kalipuro memikul tanggung
jawab besar dalam mencetak sumber daya manusia maritim yang andal. Dan melalui
kunjungan SD Islam Al Khairiyah ini, sekolah tersebut juga telah mengambil
peran penting dalam menyemai benih-benih cinta laut kepada generasi masa depan.
Saat matahari mulai bergeser ke barat, rombongan angkutan kota SD Islam
Al Khairiyah bersiap meninggalkan kompleks SMKN 1 Kalipuro. Dari balik kaca
jendela angkutan kota, anak-anak melambaikan tangan perpisahan kepada Pak Wawuh
dan para taruna. Mereka pulang tidak hanya membawa cerita seru untuk
diceritakan kepada orang rumah, tetapi juga membawa wawasan baru tentang
cakrawala maritim yang luas, dan mungkin—bagi sebagian dari mereka—sebuah
cita-cita baru untuk menjadi penjaga lautan Nusantara.#